KABAR DARI ACEH

Warga Lambaro Skep Tak Lagi Dihantui Kekhawatiran, Drainase Terealisasi Berkat Advokasi Daniel Abdul Wahab

Redaksi

 

 

Banda Aceh  – AcehMonitor.com. Ada ketakutan yang tidak terlihat, tapi dirasakan setiap malam oleh warga Gampong Lambaro Skep, Kota Banda Aceh. Ketakutan itu datang bersama suara hujan.

Setiap kali hujan turun, terutama pada malam hari, banyak warga yang tidak bisa tidur dengan tenang. Mereka gelisah, bolak-balik melihat ke luar jendela, khawatir air akan meluap, masuk ke pekarangan, lalu masuk ke dalam rumah.

Kini, ketakutan itu mulai teratasi. Pembangunan saluran drainase di kawasan permukiman tersebut telah terealisasi setelah melalui advokasi Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab.

Bagi warga Lambaro Skep, ini bukan sekadar proyek pembangunan. Ini adalah jawaban atas doa dan keluhan yang sudah lama mereka sampaikan.

Sebelumnya, warga di kawasan tersebut mengeluhkan belum tersedianya saluran drainase sama sekali di zona permukiman. Di kiri dan kanan jalan permukiman itu, berdiri rumah-rumah warga. Namun, tidak ada saluran yang bisa menampung dan mengalirkan air hujan.

Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas cukup tinggi, air tidak punya tempat untuk mengalir. Air meluber ke jalan, menggenangi pekarangan, dan mengancam masuk ke dalam rumah warga.

Situasi tersebut membuat masyarakat selalu diliputi kekhawatiran. Apalagi ketika hujan turun pada malam hari. Saat semua orang seharusnya beristirahat, warga Lambaro Skep justru harus berjaga-jaga.

Sebagian warga bahkan mengaku tidak dapat tidur dengan tenang. Mereka takut ketika terbangun di tengah malam, air sudah masuk ke dalam rumah, merendam lantai, merusak perabot, dan membuat anak-anak kedinginan.

Ketakutan itu bukan berlebihan. Bagi keluarga yang tinggal di kawasan rawan genangan, hujan malam adalah momok. Satu malam hujan deras bisa membuat satu keluarga tidak tidur semalaman, hanya untuk memastikan air tidak masuk ke rumah.

“Ketakutan itu nyata. Setiap hujan malam, kami waswas. Takut air masuk rumah, takut anak-anak kedinginan, takut barang-barang rusak,” begitu gambaran yang dirasakan warga selama ini.

Warga sudah lama menyampaikan keluhan ini. Mereka berharap ada saluran drainase yang bisa menjadi solusi. Mereka hanya ingin satu hal yang sederhana: bisa tidur tenang saat hujan.

Menanggapi keluhan tersebut, Daniel Abdul Wahab melakukan advokasi agar kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat dapat direalisasikan.

Daniel tidak menganggap keluhan warga sebagai keluhan kecil. Baginya, drainase adalah kebutuhan dasar. Drainase berkaitan langsung dengan kenyamanan, keselamatan, dan kualitas kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hasilnya, pembangunan saluran drainase yang dilakukan di tengah jalan permukiman kini sudah selesai dilaksanakan.

Saluran itu kini menjadi jalur bagi air hujan untuk mengalir. Air dari kawasan permukiman diharapkan dapat dialirkan menuju saluran pembuangan yang tersedia sehingga mengurangi risiko genangan di sekitar rumah warga.

Dengan adanya saluran tersebut, air tidak lagi meluber sembarangan. Air punya jalannya sendiri. Dan warga punya ketenangannya kembali.

Daniel mengatakan, pembangunan infrastruktur lingkungan seperti drainase merupakan kebutuhan penting masyarakat.

“Alhamdulillah, aspirasi masyarakat sudah kita advokasi dan sekarang saluran drainasenya sudah terealisasi. Sebelumnya warga selalu waswas ketika hujan turun, apalagi pada malam hari, karena takut air masuk ke rumah,” ujar Daniel. Jumat 06/11/26.

Ia berharap pembangunan drainase tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan menjadi solusi terhadap persoalan genangan air yang selama ini dikeluhkan warga.

Bagi Daniel, keberhasilan ini adalah bukti bahwa aspirasi masyarakat jika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, bisa terealisasi. Aspirasi bukan sekadar dicatat, tapi harus dikawal sampai menjadi bangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.

Bagi masyarakat Lambaro Skep, kehadiran saluran drainase ini bukan sekadar pembangunan fisik. Lebih dari itu, infrastruktur tersebut diharapkan menghadirkan rasa aman dan ketenangan bagi keluarga yang tinggal di kawasan tersebut.

Drainase mungkin terlihat sederhana. Hanya sebuah saluran di tengah jalan. Tapi bagi warga yang selama ini hidup dalam ketakutan, saluran itu adalah jaminan rasa aman.

Kini, ketika hujan turun, warga tidak lagi harus berjaga-jaga dengan rasa cemas. Mereka bisa mendengarkan suara hujan dengan tenang, tanpa harus takut air akan masuk ke rumah.

Anak-anak bisa tidur nyenyak. Orang tua bisa beristirahat dengan tenang. Keluarga bisa menjalani malam dengan damai, tanpa dihantui bayangan genangan air.

Inilah makna sebenarnya dari pembangunan. Bukan soal seberapa besar bangunannya, tapi seberapa besar manfaatnya bagi kehidupan warga.

Rasa syukur itu disampaikan langsung oleh Muchlis, Keuchik Gampong Lambaro Skep. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pakde Daniel atas bantuan pembangunan saluran untuk warga.

“Terima kasih kepada Pakde Daniel atas bantuan pembangunan salurannya kepada warga kami. Alhamdulillah warga kami sekarang sudah tidak lagi dihantui kekhawatiran yang selama ini mengganggu kenyamanan di waktu musim hujan tiba,” ujar Muchlis.

Menurut Muchlis, perubahan itu sangat dirasakan oleh warga. Jika dulu setiap musim hujan tiba warga dihantui kekhawatiran, kini warga menyambut musim hujan dengan lebih tenang.

Ucapan terima kasih itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah ungkapan tulus dari seorang keuchik yang melihat langsung bagaimana warganya selama ini hidup dalam waswas, dan kini bisa bernapas lega.

Kisah Lambaro Skep ini menjadi pelajaran penting. Bahwa pembangunan tidak selalu harus megah dan besar. Kadang, pembangunan yang paling dirasakan warga justru adalah pembangunan yang paling sederhana, tapi paling dibutuhkan.

Drainase di Lambaro Skep adalah contohnya. Saluran kecil itu mengubah hidup banyak keluarga. Dari yang dulu takut hujan, kini menjadi tenang saat hujan. Dari yang dulu tidak bisa tidur, kini bisa tidur nyenyak.

Daniel berharap, pembangunan seperti ini bisa terus dilanjutkan. Masih banyak gampong lain di Banda Aceh yang membutuhkan infrastruktur dasar seperti drainase, jalan lingkungan, dan lampu jalan. Dan semua itu harus diperjuangkan satu per satu, sesuai dengan aspirasi warga.

Kini, warga Lambaro Skep bisa menyambut musim hujan dengan lebih tenang. Tidak lagi dengan rasa waswas, tapi dengan rasa syukur karena aspirasi mereka didengar dan direalisasikan.

Hujan yang dulu menakutkan, kini menjadi berkah. Dan malam yang dulu penuh kekhawatiran, kini menjadi malam yang tenang bagi warga Lambaro Skep.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!