LIFE STYLE

Kesadaran Diri

Oleh : Anaz Almansour
Motivator Kepribadian

 

 

 

 

Seorang bangsawan yang ingin mengalami pencerahan hidup menemui guru.
Saat berjumpa dengan sang guru, bangsawan itu menjelaskan maksud kedatangannya.

“Baiklah, kalau kau ingin mengalami pencerahan hidup, ada pertanyaan yang harus kau jawab”.

“Bagaimana kau menaruh payung serta sandal kayumu di tangga saat engkau masuk ruangan ini?”
Bangsawan ini mulai bingung dengan pertanyaan sang guru. Pertanyaan sang guru yang dianggapnya sepele dan dianggap tak berhubungan dengan pencerahan hidup itu tak dapat dijawab langsung oleh bangsawan.

Ia harus kembali keluar untuk mencari jawabannya. Setelah melihat posisi payung dan sandal yang diletakkannya, bergegas ia kembali menghadap sang guru. Namun, belum sempat menjawab, sang guru sudah memberi pertanyaan kedua.

“Sewaktu kau keluar tadi, apakah kau tahu berapa jumlah anak tangga yang
berada di depan pintu masuk itu?” Dengan agak kesal bangsawan terpaksa kembali lagi keluar untuk menghitung anak tangga.

Sama seperti sebelumnya, belum sempat sang bangsawan menjawab, sang guru bertanya untuk ketiga kalinya. “Waktu kau menghitung anak tangga, apakah kau tahu berapa batu-batu yang sudah rusak?” Bangsawan itu malu sekali karena tiga pertanyaan sang guru tak dapat ia jawab langsung.

Saat ia hendak kembali keluar untuk menghitung batu-batu yang rusak, Sang guru mencegahnya dan berkata:
Bagaimana engkau hendak mengalami pencerahan hidup, jika apa yang terjadi dalam hidupmu saja tak kau ketahui?”
(Smart Emotion, 2006: 182)

Pertanyaan:
1. Mengapa sang guru menganggap penting letak payung, sandal, jumlah anak tangga, dan batu-batu yang rusak?
2. Apa hubungannya hal-hal yang ditanya sang guru dengan pencerahan hidup?

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!