Redaksi
Banda Aceh – Aceh Monitor com. Safni SE , datang dari kampung ke Banda Aceh pada tahun 1982 dengan kepercayaan diri penuh , sosok yang ramah ini hanya membawa Tikar satu dan bantal dari orang tuanya.
Tikar dan bantal itu diberikan orang tua Safni SE dikarenakan ibunya melarang agar dirinya tidak usah pergi ke Banda Aceh , dikarenakan tidak ada yang membiayainya karena bapaknya Safni sudah Almarhum.
Namum dengan tekad yang bulat untuk mengejar cita – citanya Safni tetap berangkat ke Banda Aceh dan tinggal di asrama berkat bantuan saudaranya . Akan tetapi Safni tidak hanya berdiam diri semata , ia mencoba untuk mencari pekerjaan agar bisa makan.
Safni lalu di terima disebuah rumah makan walaupun tidak di gaji tapi asalkan dia bisa makan Safni menerima pekerjaan tersebut , selain bekerja Safni juga melanjutkan kuliahnya.
Awal mula dirinya ingin menjadi PNS selesai tamat kuliah , namun itu tidak terwujud lalu ia bergabung di PT Intan Pariwara sebagai sales marketing buku bertahan 6 bulan dirinya di panggil di sebuah yayasan di bagian pengutipan iuran televisi disinilah perekonomian Safni semakin meningkat.
Pada tahun 1998 terjadi moneter yang melanda Indonesia dan ia tidak lagi berkerja di yayasan tersebut , dengan modal selama bekerja , ia mencoba bermain sembako tapi selama 6 bulan mengeluti bisnis sembako terjadilah gempa dan Tsunami di Banda Aceh.
Toko beserta isinya lenyap semua di bawa air tsunami pada saat itu , setelah itu tepatnya 45 hari kejadian gempa tsunami datanglah warga negara Amerika yang bernama Mr Smith dan Carlos mereka lalu menanyakan apa rencana selanjutnya , lalu Safni menjawab agar tetap berjualan sembako akan tetapi dua warga asing itu meminta agar Safni tidak berjualan sembako dulu dengan keadaan seperti saat itu.
Lalu Safni berpikir keras agar bisa menghidupi keluarga nya , dirinya pun mencoba beralih dengan berbisnis besi tua , dua warga asing itu lalu meminta agar Safni untuk membuat proposal agar mendapat modal usaha , Safni melalukan apa yang di minta mereka.
Akhirnya Safni mendapatkan modal usaha berupa timbangan dan besi senilai 6 juta lebih , besi besi itu saya bawa ke Medan dan alhamdulilah usaha saya lancar dan mendapat keuntungan besar disitu.
Selang berapa lama kemudian warga asing datang menemuinya kembali dan dia (warga asing) merasa senang melihat perubahan pada usaha Safni yang semakin maju . Pada saat warga asing itu pulang Safni mengantarnya langsung ke Bandara lalu ia menanyakan bagaimana dirinya mengembalikan bantuan yang telah warga asing itu berikan dulu ke Safni.
Uang itu jangan kamu bayar lagi itu bantuan hibah dari masyarakat Amerika kepada orang Aceh yang tertimpa musibah , tetapi kamu harus ingat setelah nanti kamu kaya tolong bantu orang – orang miskin yang membutuhkannya dan pada suatu saat nanti kamu bakal jadi seorang pejabat tutup warga asing itu kepada Safni
