Banda Aceh- Aceh Monitor Com.Perwakilan Mahasiswa Paguyuban asal Subulussalam yang berada di Banda Aceh melakukan rapat terbatas membahas tentang Kepengurusan Himpunan Pelajar Perantauan Syeakh Hamzah Fansuri (HPP-SHaF) yang telah lama habis masa jabatannya, rapat tersebut dilakukan di Long Time Coffee Lamyong Banda Aceh.Senin (27/11/17).
Empat Paguyuban Kecamatan itu adalah Ikatan Mahasiswa Simpang Kiri (IMASKI) Ikatan Mahasiswa Kecamatan Rundeng (IMASKER) Ikatan Pelajar Mahasiswa Sultan Daulat (IPMASAD) Himpunan Mahasiswa Kecamatan Penanggalan Banda Aceh (HIMASKEP).
Empat perwakilan Paguyuban kecamatan dari Lima Kecamatan yang ada mendesak Pelaksana Jabatan (PJ) HPP-SHaF untuk melaksanakan tugas pokoknya yaitu Musyawarah Besar (MUBES) Mengingat masa Kepengurusan HPP-SHaF sekarang sudah berakhir, seharusnya masa jabatan PJ hanya tiga bulan namun ini sudah hampir setahun lebih.
“Tidak ada sejarah Pelaksana Tugas (PJ) Sampai bertahun tahun ini sudah sangat menyalahi aturan ke organisasian, apakah mereka tidak paham aturan” Kata salah satu peserta rapat.
Empat Paguyuban Kecamatan itu menuntut apabila tidak melaksanakan Mubes dalam waktu dekat maka Paguyuban Kecamatan akan melakukan Musyawarah Luar Biasa (MUSLUB) sesuai amanah AD-ART yaitu 2/3 dari jumlah mahasiswa, mereka juga meminta agar PJ HPP-SHaF mempersiapkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) semasa jabatannya.
“Tidak ada sejarah Pelaksana Tugas (PJ) Sampai bertahun tahun ini sudah sangat menyalahi aturan ke organisasian, ntah mereka tidak paham aturan” tegas salah satu peserta rapat.
Mediator Rapat Muzir Maha mengatakan desakan itu atas kesepakatan perwakilan kecamatan yang berhadir.
Menurutnya sudah sepatutnya HPP-SHaF dilakukan penyegaran mengingat masa jabatan PJ sudah lama berakhir. HPP-SHaF adalah organisasi Paguyuban asal Subulussalam yang seharusnya sebagai wadah silaturahmi dan aspirasi mahasiswa.
HPP-SHaF bukanlah milik segelintir kelompok atau kepentingan pribadi semata tapi HPP-SHaF adalah milik seluruh mahasiswa Subulussalam khususnya, namun menurutnya kondisi saat ini, HPP-SHaF telah jauh keluar dari konteks sesungguhnya, ia juga melihat lembaga tersebut cenderung di bawa ranah politik praktis yang mengakibatkan tidak efektifnya Kepengurusan kali ini.
Sedangkan Perwakilan kecamatan Sultan Daulat Abdul Ghani melihat Pelaksana Jabatan (PJ) HPP-SHaF seperti acuh tak acuh dengan kondisi seperti ini.
“Mahasiswa kita seperti anak hilang induknya”ujarnya.
Seharusnya kata Abdul Ghani pengurus HPP-SHaF mempercepat Rotasi Kepengurusan sejak dari awal agar terjadi Sistem Kelembagaan yang aktif dan Progresif bukan malah membiarkan pakum seperti ini, karena menurutnya HPP-SHaF ini bisa menjadi lembaga ajang promosi yang melahirkan kader-kader mahasiswa kreatif dan inovatif Melalui Pemantapan keorganisasian Di segala Bidang Baik itu Kesenian maupun Pendidikan.
Julioner Antoni Marpaung Perwakilan Mahasiswa Kecamatan Penanggalan juga mengharapkan terlaksananya MUBES demi memberikan sebuah kemajuan dalam perputaran oraganisasi kemahasiswaan kota subulussalam, mengingat telah banyak kepakuman roda organisasi yang disebabkan beberapa oknum kelompok yang ingin menikamati kepengurusan tanpa memahami aturan yang di amanatkan AD/ART.
Kita juga mengharapkan kedepan Lembaga besar HPP-SHaF ini dapat memberikan peringatan bagi Seluruh mahasiswa agar tetap damai dan rukun dalam melaksanakan Demokrasi kemahasiswaan demi terwujudnya organisasi kemahasiswaan yg berkualitas dan akhirnya menciptakan mahasiswa yg bermanfaat bagi masyrakat kota subulussalam nanti nya.(pri/rel)
