OPINI

KEBODOHAN DAN KEBANGGAAN JAHILIYAH DALAM ORGANISASI

Ketika Akal Sehat Dikalahkan oleh Fanatisme Kelompok

Oleh: Teuku Abdul Hannan

Aceh Monitor com. Dalam sejarah peradaban manusia, salah satu penyakit sosial yang paling merusak bukanlah kemiskinan, bukan pula kekurangan sumber daya, melainkan kebodohan yang dipelihara oleh kesombongan.

Islam menyebutnya sebagai sifat jahiliyah.

Jahiliyah bukan sekadar keadaan sebelum datangnya Islam. Jahiliyah adalah kondisi ketika seseorang atau sekelompok orang menolak kebenaran bukan karena tidak mengetahuinya, tetapi karena merasa dirinya lebih benar, lebih berhak, atau lebih tinggi daripada orang lain.

Dalam sebuah organisasi, sifat jahiliyah sering muncul dalam bentuk fanatisme kelompok, penolakan terhadap kritik, serta kecenderungan membela pihak tertentu meskipun fakta-fakta menunjukkan adanya kesalahan yang harus diperbaiki.

Hari ini, fenomena tersebut tampak semakin nyata dalam dinamika yang terjadi di KOKARLIN. Ketika Kritik Dianggap Musuh

Salah satu ciri kebodohan organisasi adalah ketidakmampuan membedakan antara kritik dan permusuhan.Padahal kritik lahir untuk memperbaiki. Namun dalam suasana yang dipenuhi fanatisme, setiap pertanyaan dianggap serangan, setiap koreksi dianggap ancaman, dan setiap pendapat berbeda dianggap upaya menjatuhkan organisasi.

Akibatnya, energi organisasi habis bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Yang lebih ironis, sebagian orang justru lebih sibuk menyerang pembawa pesan daripada menjawab substansi persoalan yang disampaikan.

Kebanggaan Jahiliyah: Membela Orang, Bukan Membela Kebenaran

Dalam banyak konflik organisasi, sering kali yang terjadi bukan pencarian kebenaran, melainkan pembelaan terhadap kelompok. Ukuran benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh fakta, aturan, atau prinsip tata kelola organisasi, melainkan oleh pertanyaan sederhana:

“Siapa yang mengatakan?”

Jika berasal dari kelompok sendiri, maka dianggap benar. Jika berasal dari pihak yang berbeda, maka langsung dianggap salah. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai ashabiyah, yaitu fanatisme golongan yang membutakan akal sehat.

Rasulullah SAW memperingatkan bahwa seseorang tidak boleh membela kelompoknya dalam kezaliman. Membela kebenaran adalah kewajiban, tetapi membela kesalahan hanya karena hubungan kedekatan adalah bentuk kemunduran moral.

*Ketika Jabatan Menjadi Tameng*

Organisasi akan kehilangan arah ketika jabatan dianggap sebagai sumber kebenaran. Padahal dalam koperasi, tidak ada satu pun organ yang berada di atas kedaulatan anggota. Pengurus dapat salah. Pengawas dapat salah. Anggota juga dapat salah.

Karena itu sistem koperasi dibangun dengan prinsip saling mengawasi dan saling mengoreksi.

Sayangnya, dalam praktiknya sering muncul anggapan bahwa mempertanyakan keputusan pengurus adalah tindakan melawan organisasi.

Padahal justru sebaliknya. Ketika tidak ada lagi ruang untuk bertanya, saat itulah organisasi mulai kehilangan mekanisme pengaman terhadap penyimpangan.

*Kebodohan yang Paling Berbahaya*

Kebodohan yang paling berbahaya bukanlah tidak tahu. Kebodohan yang paling berbahaya adalah menolak untuk tahu. Menolak membaca dokumen. Menolak melihat fakta. Menolak mendengar pendapat berbeda.

Menolak memeriksa kembali keyakinan yang selama ini dianggap benar. Pada titik inilah fanatisme berubah menjadi penyakit organisasi. Karena keputusan tidak lagi didasarkan pada data, melainkan pada emosi. Tidak lagi berdasarkan aturan, melainkan pada loyalitas. Tidak lagi berdasarkan kebenaran, melainkan pada kepentingan kelompok.

Penutup

KOKARLIN tidak akan rusak karena perbedaan pendapat.

Sebaliknya, organisasi justru tumbuh melalui perbedaan pendapat yang dikelola secara sehat. Yang berbahaya adalah ketika akal sehat dikalahkan oleh fanatisme, ketika kritik dianggap permusuhan, dan ketika kesalahan dipertahankan hanya demi menjaga harga diri kelompok.

Kebenaran tidak akan menjadi salah hanya karena disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai. Dan kesalahan tidak akan menjadi benar hanya karena dilakukan oleh orang yang kita dukung.

Karena pada akhirnya, masa depan organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara, tetapi oleh siapa yang paling berani menempatkan kebenaran di atas kepentingan golongan.

Itulah perbedaan antara organisasi yang dewasa dengan organisasi yang masih terjebak dalam kebanggaan jahiliyah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!