Bireuen – Aceh Monior Com. Sejarah antara Indonesia dan etnis Rohingya berjalan sudah sejak lama, Pada era Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, etnis Rohingya pertama kali datang di Indonesia pada tahun 2006 saat itu Indonesia menyerahkan seluruh penyelesaian masalah pada United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).
Ditahun 2018 Gelombang arus muslim Rohingya atau yang kerap disebut manusia kapal itu kembali terdampar degan perahu yang berawakkan 76 orang di perairan laut lepas Provinsi Aceh tepatnya disemenanjung pantai Kuala Raja Kecamatan Kuala Kab Bireuen pada Jumat, 20/4/2018 kemarin.
Menurut pantauan media Aceh Monitor Com pada sabtu 21/4/2018 digedung SKB dari keseluruhan warga Rohingnya itu terdiri atas 42 laki-laki, 26 wanita, dan 8 anak-anak dengan kondisi kesehatan mereka berangsur membaik namun ada sebagian dari mereka yang kekeurangan cairan tubuh dan ditangani oleh tim medis PMI Bireuen di lokasi juga terlihat disediakan bantuan masa panik dari Dinas Sosial Bireuen, dibantu petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang menyalurkan bantuan berupa matras, baju, mukena, jilbab serta air mineral termasuk penyediaan lainnya.
Selanjutnya, Kepala BPBA Provinsi Aceh Ahmad Dadek SH serta kepala Dinas Sosial Provinsi Aceh Alhudri yang hadir saat menyerahkan bantuan kemanusiaan tersebut menjelaskan dalam hal ini sebagai bentuk respon cepat pemerintah menanggapi masalah kemanusiaan dan sebagai tindak lanjut perintah dari Gubernur Aceh Irwandi Yusuf .
Untuk meninjau lokasi serta membawa bantuan berupa kebutuhan logistik sandang pangan yang langsung diterima oleh pemerintah daerah kabupaten Bireuen.
Sementara itu, Wakil Bupati Bireuen H Dr Muzakkar Agani SH M,Si yang didampingi Kepala dinas Sosial Drs Murdani dan Kepala BPBD Bireuen M.Nasir saat merima bantuan menjelaskan Pemerintah Kabupaten Bireuen bersikap baik dengan memberikan bantuan berupa tempat penampungan, makanan, minuman, dan obat-obatan untuk pengungsi Rohingya yang saat ini ditampung digedung SKB Cot Gapu Bireueun.
Indonesia dengan mayoritas penduduk islam terbesar didunia dan dengan budaya timurnya yang lemah lembut serta berprikemanusiaan sebagaimana termaktub dalam falsafat Negara pada sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.
Maka oleh karena itu dengan rasa kemanusiaan yang tinggi masyrakat aceh khususnya warga Bireuen berbondong bondong menyambut tamu dari Allah ini dengan bentuk pertolongan dengan memberikan pertolongan dan bantuan untuk mereka.
“Manifestasi dalam sila kedua tentang kemanusian yang adil dan beradap ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat aceh menyambut kaum rohingnya” jelasnya
Namun untuk waktu sampai kapan para pengungsi rohingnya ditampung di Bireuen Kepala dinas Sosial Drs Murdani menyampampaikan , belum ada kepastian tentang hal tersebut sampai saat ini pemerintah daerah Kabupaten Bireuen masih melakukan kordinasi dengan UNHCR dan imigrasi Aceh. (duta)

