KABAR DARI ACEH

Begini Jalanya Proses Persidangan Penganiyaan Istri Wartawan Di Bireuen

Bireuen – Aceh Monitor Com. Keluarga besar dari M. Sulaiman, (43) suami dari korban berharap dalam proses persidangan atas kasus penganiyaan terhadap istrinya dapat berjalan dengan sebagaimana konsekwensi hukum yang berlaku.

“Kita tunggu proses sidang selanjutnya, saya berharap masyarakat juga turut mengawal proses ini sampai tuntas dan pelaku diberi hukuman yang setimpal,” ujarnya kepada Aceh Monitor.Com , Kamis (6/9) sore.

Sementara itu, dalam proses jalannya persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Bireuen pada Rabu (4/9) lalu, Mahyu Danil (36) Warga Cot Rambat, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen yang  dihadirkan sebagai terdakwa  dalam kasus penganiayaan terhadap, Fathiah (31) yang juga istri Wartawan Atjeh Net, menyangkal telah mengunakan kayu dan batu bata untuk menghahajar korbannya itu, namun Tedakwa hanya beduel dengan saling jotos-jotosan.

Dalam persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Muchtar, SH dengang Hakim anggota, Rahma Novianti, SH, dan Irwanto SH menghadirkan saksi  korban, Fathiah serta Fatanah (50),  Putri Sriwayuni yang Seluruhnya warga Cot Tube, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen dan Murtala (49) warga Bangka Jaya, Kcamatan Dewantara, Kabupaten  Aceh Utara.

Kendati seluruh saksi telah  menyatakan terdakwa telah menganiaya korban, Fathiah, tetap meyangkalnya yang hanya mengakui jika terdakwa hanya “bertinju” dengan korban dengan saling memukul atau jotos-jotosan,  dan  terdakwa menangkal pula telah mengunakan kayu dan batu bata untuk memukul korban serta tidak mengakui pula jika kayu dan batu bata yang turut dibawa ke pengadilan sebagai barang bukti. Begitupun mengakui visum yang menyebutkan sejumlah luka-luka di  bagian kepala korban, yang disebutkan akibat jotos-jotosan.

Fathiah yang dihadirkan Jaksa Siara Nedi sebagai Saksi korban, menyebutkan awal kejadian yang menimpa dirinya, berawal pada 11 Mei 2018 lalu, saat dirinya  sedang menyapu di halaman rumahnya. Tiba-tiba datang terdakwa dengan mengunakan mobil pick up di jalan desa, depan rumahnya sambil mengejek dirinya , karena jengkel korban mangambil batu lalu melempar kearah korban yang mengenai mobilnya. Lalu terdakwa turun dari mobil,  lalu mengejajar korban yang berusaha lari ke dalam rumahnya.

Namun keburu rambutnya dijambak terdakwa, yang sekaligus mengambil kayu dengan menghajarnya ke bagian kepala, dan setelah kayu yang dipegangnya terjatuh, kemudian mengambil batu bata yang serta menghantam bagian kepalanya yang membuat korban terjatuh.

Tidak hanya sampai disitu, lalu dengan mengunakan lututnya mengimpit perut korban yang sudah terlentang, sehingga Korban keluar kencingnya. Ternyata terdakwa tidak menghentikan aksinya dan melanjutan dengan dengan “bogem mentah” ke tubuh korban yang mengakibatkan Fathiah, pening-pening-sambil merintih kesakitan.

Sementara saksi Putri Wahyuni yang melihat aksi penganiyaan itu, hanya mampu berteriak sambil minta tolong yang ketika itu menyangka korban sudah meninggal dunia. Kemudian Saksi Murtala yang mendengar teriakan minta tolong itu, mendatangi arah teriakan tersebut, dan melihat Mahyu sedang memukuli korban sambil menghimpit korban yang mengunakan lututnya. Lalu saksi, berusaha  melerainya dengan mendorong tubuh, namun saksi sempat juga menerma pukulan dari terdakwa  sambil menghardik ‘Siapa kau” .

Sementara saksi Fatanah, yang datang belakangan juga menyaksikan aksi pemukulan saat tubuh korban dihimpit oleh tebuh terdakwa, sambil memukul. Saksi, mencoba memisahkan, seraya mengatakan untuk tidak berkelahi lagi, dan akhirnya terdakwa meninggalkan tempat itu, walaupun Mahyu dalam keadaan tidak puas.

Terhadap seluruh keterangan saksi terdakwa Mahyu Danil membatah telah menganiaya  terhadap korban, Ia hanya mengakui bertinju dengan korban dan tidak mengunakan kayu dan batu bata untuk memukulnya. Terdakwa hanya saling memukul pukul yang masing-masing sebanyak dua kali.

‘Kami saling pukul sebanyak  dua kali l, dan kehadiran Saksi Murtala dan Fatanah bukan untuk memisahkan, tapi ikut mengimpit diri saya,’ tanggap terdakwa dengan tenang.

Selanjutnya Majelis hakim akhirnya, menunda sidangnya, sampai, Rabu depan untuk mendengar tuntutan Jaksa Siara Naedy terhadap terdakwa yang hadir ke pengadilan tanpa didampingi penasehat hukumnya, dan dalam persidangan kemarin mengakui sangat menyesal atas perbuatannya itu. (Duta)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!