SOSIAL BUDAYA AGAMA

Disabilitas Dinilai Masih Alami Diskriminatif

Banda Aceh – Aceh Monitor Com (AMC). Persatuan Penyandang Disabiltas Indonesia (PPDI) Provinsi Aceh akhirnya memilih ketua baru untuk periode 2018-2013 dalam Musawarah Daerah (Musda) ke II di Hotel Rasamala, Banda Aceh, Kamis (8/11/2018).

Hamdanil, satu dari dua calon kandidat ketua berhasil mengalahkan Zulfa Hendra dengan perolehan suara 17 banding 14.

Musda yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Aceh tersebut turut dihadirkan langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPDI  Gufroni Sakaril, ketua PPDI demisioner Ikhfan Sahara dan Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM yang diwakili Sekretaris Dinas Devi Riansyah, Aks.,M.Si.

Devi Riansyah mengucakan selamat atas terpilihnya Hamdanil sebagai ketua PPDI yang baru menggantikan ketua sebelumnya Ikhfan Sahara, semoga kepengurusan PPDI untuk periode 2018-2023 akan menjadi lebih baik.

Menurut Devi, Musda PPDI ke II merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah dalam upaya menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas, karena itu Devi sangat berharap dengan terpilihnya pengurus baru akan mampu meningkatkan dan memantapkan kualitas serta keberadaan organisasi PPDI secara prima, sehingga dapat berperan sebagai salah satu elemen kekuatan pembangunan di Aceh.

“Momentum pergantian kepemimpinan ini sangat penting dan memiliki nilai strategis untuk memantapkan program kerja organisasi agar senantiasa berjalan lebih baik dan mampu bersaing dengan oragnisasi lain,” harap devi.

Devi menuturkan, perubahan paradigma penanganan penyandang disabilitas kini telah bergesar dari pendekatan belas kasihan (charity based approach) menjadi lebih mengedepankan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas (righ based approach). Hal ini tertuang di dalam UU No 19 Tahun 2011 tentang konvensi hak-hak penyandang disabilitas dan UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

“Karena itu dengan terpilihnya pengurus baru ini, semoga PPDI Provinsi Aceh akan menjadi lebih baik lagi dan bermanfaat bagi penyandang disabiltas,’ katanya.

Sementara itu , Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Penyandang Disabiltas Indonesia (PPDI), Gufroni Sakaril, mengaku jika penyandang disabilitas masih kerap mendapat pelayanan yang diskriminatif terutama di bidang pendidikan, tenaga kerja, dan usaha.

“Banyak teman-teman di desa-desa tidak bisa akses ke pendidikan dasar karena tempatny ajauh dan ruangannya tidak terakses,” kata Gufroni saat ditemui di lokasi Musda, Kamis (8/11/2018).

Selain itum tidak tersedianya guru-guru yang bisa mengajari para penyandang disabiltas seperti tuna runggu dan tuna daksa juga membuat mereka tidak bisa mengakses layanan pendidikan.

“Kemudian di bidang tenaga kerja, hanya sedikit sekali teman-teman disabilitas yang mendapat pekerjaan di sektor formal seperti  menjadi pegawai atau menjadi karyawan,” tambahnya.

Hal ini disebabkan karena memang sangat berhubungan dengan pendidikan. Jika pendidikannya rendah maka akses untuk dunia kerjanya juga akan sangat terbatas. Kemudian dalam bidang usaha, kemampuan mereka juga sangat rendah. Selain itu dalam urusan modal usaha, disabilitas dinilai sangat susah untuk mendapatkan akses pinjamnan di bank.

“Ini menjadi pekerjaan rumah  bagi kita semua agar dibuka seluas-luasnya akses untuk penyandang disabilitas,” katanya.

Akibat susahnya akses yanhg dialami oleh penyandang disabiltas tersebut, membuat mereka banyak yang menjadi pengemis di jalanan dan sebagian digunkan oleh orang lain dijadikan alat untuk meminta-minta. Sementara dalam undang-undang sudah ditegaskan bahwa para penyandang disabiltas ini merupakan tanggungjawab pemerintah dan pemerintah wajib untuk memberdayakan mereka.

“Mereka yang tidak sekolah harus bisa ditarik untuk ke sekolah, dan bagaimana supaya mereka sekolah bisa menerima mereka dengan menyedikan fasilitas ramah disabilitas,” katanya.

Selain itu, katanya, mestinya yang penyandang disabiltas yang meminta-minta di jalan harus dicegah karena itu pekerjaan tidak bermartabat.

“Tapi itu mereka lakukan karena terpaksa. Kita pengen mereka itu dikasih keterampilan, misalnya bikin kue, kemudian  bagaimana memasarkannya. Maka salah satunya adalah bagaiamana kita memotivasi mereka para penyandang disabilitas,” katanya. (..)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!