Oleh : Anas Zulham Almansour Motivator Kepribadian
Menjauhi yang Pesimis, Menghampiri yang Optimis
”Seorang pesimis adalah ia yang menemukan kesulitan dalam kesempatan; si optimis adalah ia yang melihat kesempatan dalam kesulitan” (Harry S. Truman, Presiden Amerika Serikat).
Orang yang pesimis akan menjelaskan kegagalan dan mencari alasan.
Bukan pada bagaimana cara untuk melakukan yg terbaik.
Orang pesimis senantiasa melihat kesulitan, kesusahan dalam setiap kesempatan,
Orang yang optimis akan melihat peristiwa yang tidak menyenangkan sebagai sesuatu yang terjadi secara temporer, dan dianggap sebagai tekanan untuk bisa meloncat lebih tinggi lagi.
seorang optimis langsung melihat kesempatan dalam setiap kesulitan
Orang Islam tak punya kata pesimis dalam kamus hidupnya, karena pedoman yang telah dipegang teguh adalah al-Quran dan al-Hadits.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa segala rintangan, kesulitan yang dihadapi menjadikan kita kian ahli dan bertambah pengalaman dalam segala hal? Sungguh indah ayat cinta–Nya mengenai sikap optimis yang harus ditanamkan dalam diri kita, Alam Nashrah, “… karena, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.”
(QS Al-Insyirah: 5-6)
Kita harus dapat menghindari sikap pesimisme yang dapat meruntuhkan kepercayaan diri pada keindahan taufiq hidayah-Nya yang telah kita dekap erat-erat. Untuk menanamkan sikap optimis di diri kita, sehingga kita menyadari bahwa tugas diri hanyalah berusaha semaksimal mungkin atay mengoptimalkan ikhtiar lalu memanjatkan doa kepada-Nya, sedangkan ketentuan dan hasil akhir adalah urusan Allah ta’ala. Penilaian dan ganjaran terbaik adalah milik-Nya semata.
Wallahu’alam bisshawab.
