SOSIAL BUDAYA AGAMA

Terkait Bioskop , Sineas Aceh Sarankan Ini Ke Walikota

Banda Aceh – Aceh Monitor Com.Sebagai warga kota yang selama ini bergiat di seni perfilman kami mencoba memberi pandangan terkait keinginan Walikota Banda Aceh akan studi banding ke Arab Saudi untuk melakukan studi Bioskop.

“Seharusnya tidak perlu walikota ke Arab Saudi , karena mereka sendiri baru saja membuka bioskop setelah 30 Tahun ” jelas Faisal Ilyas Direktur Aceh Dokumentary dalam siaran pers yang diterima Aceh Monitor Com. Senin 19/03/18.

Menurutnya , Aceh sudah pernah ada dan lebih maju dari Arab. Soal Islam dan Bioskop sudah lama berdialektika kultural di Aceh.

“Masalah syariat dalam bioskop islami bisa dikonsultasi dengan pihak-pihak terkait karena perihal kemajuan budaya kita lebih maju dari pada Arab Saudi ” tegasnya .

“Kalaupun pihak Walikota mau korespondensi regulasi bioskop di Arab Saudi, datang saja ke Kedubes Arab di Jakarta, kami kira pasti disana akan mendapat jawaban dan masukan ” sebut Faisal Ilyas.

Ia menyebutkan anggaran studi banding bisa dipakai untuk proses naskah akademik dan rancangan qanun bioskop islami.Isu kebutuhan bioskop warga kota memang sudah bergaung 5 tahun terakhir.

“Dan kami mendengar ada beberapa investor punya keinginan untuk investasi di sektor ini, tapi izin pendirian terkendala pemahaman keagamaan atas fungsi pendidikan dan kepentingan nilai-nilai islam dari bioskop ” ujarnya.

DR Yusuf Qaradhawi dalam karyanya m Al-Halal wal Haram fil Islam menerangkan ,  tidak perlu ragu bahwa pertunjukkan film dan sejenisnya merupakan sarana penting dari sekian banyak sarana hiburan.

Sebagai sarana, kedudukan film bioskop sama seperti sarana lainnya. Artinya, ia bisa jadi digunakan untuk kebaikan. Tetapi ada kalanya film dimanfaatkan untuk keburukan. Secara substansi, pertunjukan bioskop tidak masalah. Kedudukan hukumnya didasarkan pada pesan dan isi film.

“Kami berpikir ada banyak cara dan alternative untuk pendirian bioskop bebas dari maksiat, pemkot bisa memisahkan antara seat (tempat duduk) laki-laki dan perempuan, dibentuk tim kurasi film untuk memastikan film yang di putar bebas dari unsur-unsur maksiat ” ungkap Faisal Ilyas.

Kami berpikir, pihak walikota perlu untuk memanfaatkan ruang-ruang alternative sebagai ruang pemutaran, seperti gedung Garuda Theater, taman-taman kota yang hampir ada di semua desa. Jangan buang anggaran rakyat utk studi banding hal-hal yg memang sudah menjadi aspirasi kebudayaan islami masyarakat kota gemilang. Tutupnya  (Rel)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!