Banda Aceh, Aceh Monitor.com-Mantan Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) Pieter Feith Jumat (13/10/2015) di acara makan malam di Anjong Mon Mata, kepada para wartawan menjelaskan masalah proses damai Aceh, kini jadi model penyelesaian konflik di berbagai belahan dunia. Dia mengaku kagum atas perkembangan damai di Aceh pasca-penandatanganan MoU Helsinki. Banyak pelajaran berharga yang dapat dipelajari negara-negara lain yang mengalami konflik internal seperti Filipina, Ukraina dan beberapa negara lain ujar Feith. “Dari beberapa negara yang saya kunjungi di berbagai tempat saya selalu menceritakan keberhasilan perdamaian Aceh setelah dilanda konflik panjang,” lanjut Feith.
Ketika ditanya Aceh Monitor tentang kasus Din Minimi dia terkesan kurang begitu mengikuti kasus ini, setelah dijelaskan, dia menyatakan meski masih banyak senjata beredar di Aceh, bukan berarti perdamaian gagal. Dia menagatakan, “mungkin itu senjata baru dari luar pasca MOU” ujarnya.
Sementara itu Fasilitator MoU Helsinki lainnya Juha Christensen mengkritisi kehidupan eks anggota Gam masih belum terekomendasi sepenuhnya. Dia menyatakan masalah pelik yang dihadapi harini adalah soal dana, “ini perlu diatur dan dibentuk struktur teknis serta implementasi yang baik sehingga penyalurannya tepat sasaran”. Lebih lanjut dia menghimbau pemerintah Aceh untuk membuat sistem yang baik sehingga para mantan kombatan GAM bisa mendapat lapangan kerja baru. “apalagi pemerintah Aceh sudah dapat banyak dana dari pemerintah pusat termasuk dana khusus mencapai 5 – 6 triliun untuk masa 15 tahun,” tutup Juha. (SG)
