Banda Aceh – Aceh Monitor com. Panitia Zikir Akbar dan Doa Bersama untuk arwah para sultan, raja, habaib, ulama dan seluruh rakyat aceh mengadakan jumpa pers sebagai persiapan panitia di di Cafe Gravity Banda Aceh (03/05/2018).
Zikir Akbar , Doa Bersama dan Khanduri dengan tema ‘dalam hal mengambil berkah, tuah untuk kedamaian, keadilan, memakmuran, kebahagiaan, kejayaan negeri ini’ akan dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2018 di Komplek Istana Darul Makmur (Makan Sultan Meurah Djohan Syah) Gampong Pande – Kutaraja sebagai salah satu situs sejarah Aceh yang masih tersisa saat ini.
Teuku Raja Saifullah (Raja Meureuhom Daya) selaku ketua panitia dalam acara ini , mengutarakan bahwa acara ini sebagai bentuk rasa terima kasih rakyat Aceh kepada para moyang terdahulu.
“Tujuan kenduri/samadiyah ini diadakan sebagai rasa terima kasih kita kepada moyang kita terdahulu, berkat perjuangan para ulama dan raja terdahulu lah Aceh ini menjadi wilayah, jadi wajib kita lanjutkan perjuangan pendahulu kita.” ujar Teuku Raja Saifullah.
Menurut Abi Lampisang , yang juga akan memimpin Zikir nanti mengatakan , bahwa acara Zikir Akbar dan Doa Bersama ini , untuk mencari ‘Tung Tuah’ dan keselamatan dari Allah.
“Dengan kenduri ini, semoga kita mendapatkan petunjuk, rahmat dan hidayah dari Allah agar kita selamat dunia dan akhirat, “sebut Abi Lampisang.
“Tujuannya untuk ‘tung tuah’ meminta keselamatan kepada Allah untuk kita dan anak cucu nanti. Disamping itu, (acara ini) sebagai pemantik semangat ke-Aceh-an bagi kita sekarang. bukan untuk riya'” Tutur Abi Lampisang.
Ketua panitia , Teuku Raja Saifullah juga mengajak kepada seluruh rakyat hadir untuk dapat berpartisipasi dalam acara ini.
“Mari kita semua rakyat aceh untuk turut ikut hadir dalam acara sebgai penyambung silaturrahmi dan juga untuk mengetahui sejarah kerajaan Aceh terdahulu.” tutup Teuku Raja Saifullah.
Dalam konferensi pers tersebut, hadir Teuku Raja Saifullah (Raja Meureuhom Daya), Abi Lampisang (tokoh ulama), Teuku Raja Nasruddin (Raja Negeri Kuala Batee), Teuku Mahliyuni (Raja Binuang Sibadeh Aceh Selatan), DR Husaini Ibrahim (pakar sejarah) , Teuku Vanda (Moderator) dan juga seluruh keturunan raja-raja dari seluruh wilayah di Aceh. (riz)
