Sosbud

AYAH GANI BERJUANG DALAM SUNYI

** OLEH IRAHAS NIGA

Kolumnis dan pemerhati sosial politik

Pengantar

Banda Aceh-Aceh Monitor Com.Kancah dunia perjuangan dimanapun selalu diinisiasi, dan diisi oleh para tokoh yang berperan sebagai pelopor dengan beragam visi dan misi melatarinya. Seperti ungkapan kata bijak Henry Ward Beecher: God made man to go by motives, and he will not go without them”. Begitulah keputusan dan langkah seseorang rela terlibat dalam suatu kancah perjuangan lazim dimotivasi oleh motif tersebut, Mungkin ini pula yang melatari pegangan dan alasanserta motif Ayah Gani melibatkan diri dalam perjuangan semasa hidupnya. Dimasa lampau, beralih dunia dari profesi guru memutusakan sarat melibatkan diri dalam beragam gerakan perjuangan, politik, sosial dan pendidikan di bumi tanah rencong. Dalam ranah politik ia kental terlibat dalam gerakan DI/TII (Darul Islam dan Tentara Islam) di Aceh pada periode 1953 bersama dengan Tgk Daud Bereueh, Husein Al Mujahid dan Hasan Saleh. Sedihnya, episodei cerita selanjutnya bicah kongsi.

Latar Belakang Kehidupan

Ayah Gani lahir dengan nama Abdul Gani dari pasangan Tgk Usman dan Nyak Nafisah. Ayahnya seorang wiraswasta sukses di bidang peternakan, dan memiliki lahan pertanian luas di beberapa lokasi seputar kecamatan Seulimum pada era kolonial. Bahkan satu-satunya keluarga yang memiliki mobil di gampong Seulimeum. Ayahnya lebih dikenal dengan panggilan “Mando Seuman” alias mandor usman, karena usahanya berawal di bidang kerja konstruksi atau pemborong. Menurut penuturan keluarga, Ayah Gani dilahirkan sekitar tahun 1910-an di kampung Seulimum Kabupaten Aceh Besar, 45 km dari kota Banda Aceh.

Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) di Seulimeum ia melanjutkan ke sekolah lanjutan pertama kolonial di Koetaradja (sekarang Banda Aceh) di Meer Uitgebreid Lagere Onderwiijs (MULO), sekolah menengah tingkat pertama milik kolonial Belanda. Para siswa MULO umumnya bersal dari keluarga kelas menengah, anak-anak dari para pedagang, ataupun priyayi dan ningrat hulubalang Aceh. Menurut penuturan teman-temannya selama menimba ilmu di MULO, Ayah Gani termasuk salah satu siswa menonjol. Karena Ayah Gani, termasuk sosok yang pelit bercerita secuil apapun tentang dirinya. Menurut penuturan anak-anaknya ia termasuk jenis orang tua yang sangat jarang atau bahkan nyaris tidak pernah sekalipun kepada anak-anaknya ia mengumbar apapun tentang keberhasilan, peranan maupun jasa-jasanya dalam perjuangan,. Tapi bersumber dari teman-teman sekolahnya, buku ataupun arsip dokumen historis. Namun sebaliknya, ia akan sangat bersemangat jika memberi nasihat dan kisah pelita kehidupan dari tokoh-tokoh kemanusiaan dunia, terutama dari kalangan pemimpin-pemimpin Islam. Mungkin ini cerminan dari sikap dan sifat pribadinya yang sangat bersahaja dan merasa bahagia menjalani hidup apa adanya dalam kederhanaan. Menurut cerita anak-anaknya ia bahkan tidak memiliki satu pasang pun stelan jas dan dasi. Meski saat itu ia tercatat sebagai anggota bidang pendidikan BPH (Badan Pemerintah Harian), sayap khusus eksekutif yang memberi sumbang pikiran kepada gubernur. Meskipun ia mendapat fasilitas mobil dinas, tapi jika pengemudi absen ia pun tidak segan berjalan kaki dari rumahnya di Lamprik menuju kantor gubernur Aceh di Jalan T. Nyak Arif, sebab ia sendiri tidak bisa mengemudikan mobil. Sebelumnya di tahun 1950 ia juga pernah menjadi anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Aceh mewakili partai Masyumi.

Alasan kesederhanaan hidupnya itulah maka Imbuhan kata “Ayah” ditabalkan di depan namanya oleh kawan-kawan dan bekas murid-muridnya. Predikat ini pula yang kemudian terus melekat dan populer di masyarakat Aceh hingga akhir hayatnya. Menurut teman-teman dan bekas murid-muridnya predikat “Ayah” di depan namanya lebih dikarenakan oleh faktor sikap, pembawaan pribadi, dan perilakunya kesehariannya yang “ke-bapakan,” karena suka mendidik, memberi nasihat dan mengayomi lingkungan selama hidupnya. Bahkan sebagian kawan seperjuangannya pun kemudian menggelarinya sebagai Gandhi* dari Aceh Hasan Saleh, (“Napoleon dari Tanah Rencong” hal.469-472, 1989.

*Mahatma Gandhi tokoh pejuang kemerdekaan India non kekerasan)

Suatu hari di tahun 1975 putera almarhum nomor tiga Nizali A. Gani hendak memperbaiki kesalahan ejaan nama di batu nisan pusara Ayah Gani yang dibuat di Medan. Karena masa itu keahlian seni grafis pahat batu di Banda Aceh masih langka. Satu-satunya yang ada di Kampung Baru Toko Trio. Pemiliknya seorang lelaki tua asal Minangkabau yang dikenal dengan panggilan Pak Buyung. Ketika melihat nama di batu nisan itu tiba-tiba Pak Buyung tertegun sejenak mentapnya. Dia pun bertanya kepada Nizali “apa ini si Gani anak Seulimum ya”. Ketika dijawab ya, seketika pak tua itu pun berujar “sudah nak tak usah kau bayar biayanya, almarhum ini dulu di tahun 1940-an teman sekelasku di MULO, anggaplah ini sedekah ku baginya”. Sambil membetulkan huruf di batu nisan itu, ia pun bercerita panjang tentang sosok Ayah Gani saat menjadi siswa MULO di Banda Aceh. Menurut Pak Buyung guru-guru Belanda memanggil Ayah Gani dengan sebutan teungku, suatu hal yang langka masa itu guru kolonial menyapa muridnya dengan panggilan seperti itu. Ceritanya ini dikarenakan Ayah Gani termasuk siswa yang tekun, rajin membaca, dan berbicara seperlunya saja. Ketika jam istirahat teman-temannya bermain, Ayah Gani lebih senang sendirian di dalam kelas mengulang pelajaran yang baru diajarkan. Menurut Pak Buyung Ayah Gani termasuk cemerlang dalam hampir semua pelajaran kecuali seni suara dan menggambar. Dua keahlian yang memang tidak dikuasainya selama hidupnya. Ini diakui anak-anaknya, bahwa mereka tidak pernah sekalipun mendengar Ayahnya berdendang ataupun menyanyi. Begitu pula tidak pernah sekalipun diajari cara menggambar. Tampaknya dua keahllian tersebut memang sama sekalit idak akrab dengannya selama di sekolah. Sebaliknya dalam pelajaran ilmu pasti, pengetahuan sosial dan bahasa, Ayahnya adalah jagonya, dia sangat piawai memecahkan soal-soal rumit dua pelajaran tersebut.

Dunia Politik dan Pemerintahan : Pra DI/TII & Pasca DI/TII

Perjalanan hidup almarhum sebagian besar di habiskan berkiprah di dunia politik dan sosial. Ia selama hidupnya pernah dipercaya menjalankan amanah sebagai; ajudan gubernur militer Aceh – Langkat dan Tanah Karo; anggota DPD–23 Januari 1950; anggota DPRD Aceh 20 Januari 1950; anggota BPH (pasca Ikrar Lamteh); Ketua Dewan Revolusi DI/TII memimpin perundingan dengan WPM RI Mr Hardi (Misi Hardi); Menteri Sosial Kabinet PRRI (dia menolak, meski namanya telah tercantum dalam daftar anggota kabinet); Ketua Pandu sekolah Noormal Islam PUSA; Wakil Perdana Menteri Darul Islam dan Menteri Pendidikan DITII; dan Ketua Yayasan Perguruan Islam Aceh.

Selama berjuang bersama Tgk Daud Beureueh dalam gerakan Darul Islam Aceh, beliau akhirnya ditangkap oleh pasukan TNI di pedalaman gampong Lamteuba Aceh Besar. Suatu kejadian menarik adalah sikap konsisten beliau dalam memegang teguh misi perjuangan DI TII. Penulis memperoleh sepenggal kisahnya saat diinterogasi pihak TNI berikut ini: Menurut cerita ayah saya saat diintrograsi pihak penyidik yang satu elit DI TII malah menyalahkan banyak orang yang mempengaruhi dia diantaranya dia menyebut nama Tgk Wahab Keunaloe Seulimum (kakek mantan Menteri PAN Azwar Abubakar) dan Abu Daud Beureueh tentunya. Yang paling mengesankan saya adalah jawaban Ayah Gani saat diinterogrosi di penjara “ jika waktu itu Ayah dilepas apa yang akan dilakukan Ayah, Ayah Gani menjawab “saya akan melanjutkan perjuanganini karena tujuannya belum tercapai.” (Testimoni Ir. Teuku Ridwan Jauhari cicit ulama besar Tgk Tanoh Abee diposting di akun fb Sahari Ayah Gani pada tgl 28 Maret 2015 pukul 23.00 wib).

Dunia Pendidikan

Salah satu dunia yang sangat dinikmati dan dicintai Ayah Gani adalah dunia pendidikan. Berwal dari cabang lembaga Sekolah Taman Siswa di Koetardja (kini Banda Aceh) dan di Jinieb Aceh Utara. Teman-teman sesama gurunya seperti T. Syamaun Gaharu (eks Pangdam Iskandar Muda pertama. Terakhir berpangkat Brigadir Jenderal TNI) perintis perundingan Lamteh dan juga dari latar lintas suku, Supeno (suku Jawa, tahun 60-an tokoh partai PNI Aceh); Mr. Sutikno (suku Jawa, terakhir Hakim Tinggi di Banda Aceh); Buya Badaruddin (orang Minang). Ketika PUSA, kelompok ulama modernis Aceh mudian juga mendirikan sekolah Islam moderen Normaal Islam di Bireun tahun 1937. Ayah Gani pun lalu menjadi salah seorang tenaga pengajar dan ia pun ditunjuk sebagai Ketua Pandu Islam di lembaga pendidikan itu.

Selanjutnya di tahun 1959. Pasca DI TII ia hijrah ke Banda Aceh Ayah Gani dan kembali mengabdikan diri di dunia pendidikan di SMIA (Sekolah Menengah Islam Atas). Gedung sekolah tersebut kini menjadi kantor Panglima Kodam Iskandar Muda. Diantara muridnya yang kelak menjadi tokoh nasional dikemudian hari. Diantara muridnya yang dikemudian hari tampil jadi tokoh nasional misalnya Prof. Dr.Ismail Suni SH guru besar di fakultas hukum Universitas Indonesiaa, dan H. Ismail Hasan Metareum SH ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Masa Tua

Dihari tuanya Ayah Gani menghabisi sisa usianya di atas kursi roda setelah terkena serangan stroke hingga ajal menjemputnya pada pada tanggal 8 Maret 1974 dalam usia 65 tahun. Di satu rumah sederhana di komplek PGA (Pendidikan Guru Agama), yang pesantren moderen Darul Ulum di Jambo Tape Banda Aceh. Sekolah ini milik Yayasan Pendidikan Islam (YPI), organisasi nir laba yang didirikan almarhum bersama rekan-rekan seperjuangannya pada tahun 1960-an dan almarhum pula yang menjadi ketua pertama dari yayasan tersebut.

Di rumah itu pula pada tahun 1974 ia dikunjungi oleh Hasan Tiro mantan muridnya ketika di Normaal Islam Bireun tahun 1930-an. Hasan Tiro ditemani oleh T.M. Amin Indolco mantan sekretaris PUSA Sigli, Rahman Gayo teman sekolah Tgk.Muhammad Hasan Ditiro semasa bersekolah di Normal Islam Bireuen.(…)


Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!