Redaksi
Banda Aceh – Aceh Monitor com Keberadaan pohon trembesi di sepanjang jalan menuju objek wisata PLTD Apung, Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, kini menjadi petaka bagi warga dan wisatawan. Pohon besar yang akarnya mampu mengangkat dan merusak pondasi rumah, trotoar, aspal, hingga jalan beton itu dinilai sudah sangat membahayakan.
Tak hanya itu, cabang pohon yang rapuh membuat tajuk mudah patah saat diterjang angin atau hujan deras, berisiko menimpa kabel listrik, kendaraan, hingga rumah warga. Pohon tersebut juga menyerap air dalam jumlah besar sehingga mengakibatkan sumur warga di lingkungan sekitar menjadi dangkal dan kekurangan cadangan air.
Warga menilai kondisi ini tidak sepenuhnya murni karena musibah, namun juga akibat kelalaian Pemerintah Kota Banda Aceh, dalam hal ini DLHK3 dan Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh. Sejak awal, batang utama pohon sudah sangat besar dan langsung mengarah ke badan jalan, namun dibiarkan tanpa penanganan.
“Padahal, Gampong Punge Blang Cut merupakan salah satu gampong wisata andalan Banda Aceh yang menjadi objek favorit wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung setiap hari ke situs tsunami PLTD Apung. Kawasan ini menjadi salah satu penyumbang PAD terbesar bagi Kota Banda Aceh, namun tidak didukung fasilitas yang memadai dan tingkat kenyamanan yang baik,” sebut Muhammad Munzir, warga setempat dan tokoh pemuda kota banda aceh itu , Kamis 29/10/26.
Muhammad Munzir menambahkan Pohon trembesi tersebut awalnya ditanam dari bantuan NGO pasca tsunami 2004 untuk memberikan keteduhan karena wilayah sekitar sangat gersang akibat bencana. Namun, pohon tersebut tidak bisa dibiarkan lama karena media tanamnya sangat sempit, sementara pemukiman warga cukup padat.
Dampaknya kini sangat dirasakan warga. Tumpukan sampah daun membuat seng rumah warga berkarat, pondasi rumah terangkat, kabel listrik terkupas, dan saat angin kencang sering terjadi korsleting hingga listrik padam di sebagian rumah warga.
“Saluran pembuangan air dari jalan tersumbat, aspal bergelombang, dan setiap hujan turun dahan menunduk hingga mengganggu akses bus wisata yang berkunjung ke PLTD Apung. Bus harus berjalan satu arah secara zig-zag, pengendara motor harus menghindari genangan air di hampir semua badan jalan. Parahnya, akses pejalan kaki hampir tidak berfungsi karena trotoar rusak parah,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan mengambil sikap serius sebelum memakan korban. Warga meminta agar semua sisa pohon trembesi di sepanjang jalan objek wisata tersebut ditebang dan diganti dengan tanaman lain yang lebih sesuai, minim risiko, namun tetap menjaga nilai estetika.
“Pemerintah juga diminta merevitalisasi seluruh badan jalan wisata tersebut dengan mengembalikan fungsi trotoar pejalan kaki yang kerap dilewati wisatawan asing pada pagi dan sore hari. Tidak semua wisatawan menggunakan kendaraan beroda untuk menuju PLTD Apung,”ujarnya
Menurutnya , memberikan sarana dan prasarana yang baik berarti juga merawat nilai syariah yang diemban. Berbicara syariah tidak semata-mata dari segi berbusana, tapi juga termasuk aspek fasilitas publik dengan menciptakan keteraturan dan rasa aman bagi masyarakat.
Warga juga mengusulkan agar disediakan bangku singgah dan penerangan lampu hias di beberapa titik agar pengunjung merasa aman dan nyaman.
“Dengan fasilitas yang baik, PAD Banda Aceh juga akan bertambah dan mendongkrak ekonomi warga sekitar seiring meningkatnya pengunjung pada siang dan malam hari. Meski kompleks objek ditutup, hanya berfoto dari luar gapura PLTD Apung tetap menjadi daya tarik tersendiri dan menimbulkan kesan baik,” pungkasnya Muhammad Munzir.
