Bireuen – Aceh Monitor Com. Aksi balapan liar (bali) di jalan Protokol tepatnya di bundaran tugu Kota Juang Bireuen di bulan ramadan 1439 Hijriah semakin menjadi-jadi, Pasalnya aksi trek balapan yang di jalan umum yang dilakukan para remaja yang rata-rata usia pelajar, itu sangat meresahkan warga terutama diwaktu selepas usai Salat Subuh sangat mengganggu pengguna jalan yang melintas.
Ryan Pinosa (26) Warga sekitar kota Bandar Bireuen mengaku setiap tahunnya pada pagi hari usai salat subuh di bulan puasa aksi trek trekan remaja yang mengundang perhatian khalayak ramai, Menurutnya, jika dulu hanya diramaikan sekedar jalan santai sambil asmara subuh saja sekarang sudah ada Balap liar yang sangat mengganggu bagi pengguna jalan saat melintas .
“Sekarang ini raungan sepeda motor yang bising, sehingga suasana pagi yang harusnya penuh kesejukan menjadi tak nyaman ,” ujarnya, Senin (21/5/2018) pagi .
Ryan Pinosa membeberkan aksi remaja menunggangi kuda besi itu, sesekali beradu kecepatan dengan jarak pendek, mulai dari simpang Empat hingga depan Meuligo Kemudian dengan waktu yang sangat singkat mereka akan membubarkan diri. “Bila sudah mulai siang, dan pengguna jalan mulai ramai dengan sendirinya mereka akan membubarkan diri,” paparnya.

Menurut Pantauan Aceh Monitor.com dialokasi , sebagian besar kendaraan yang digunakan untuk kebut-kebutan tersebut tidak memiliki lampu penerangan, sehingga cukup membahayakan pengguna jalan yang melalui jalan tersebut. Terlebih jalur protokol yang digunakan tersebut sangat dekat pusat pasar yang sering berlalu lalangnya para pedagang.
Pada kesempatan itu, pelaku balap liar berinisial Pi menuturkan, balapan yang dilakukan pihaknya tidak banyak mengeluarkan modal. Akan tetapi nilai taruhannya yang besar, yaitu terganggunya ketertiban, polusi bahkan nyawa sendiri hingga keselematan orang lain.
”Hanya sedikit modal nekat dan kemampuan teknik modifikasi, kita sudah bisa beradu kecepatan,” tukasnya.
Namun demikian, dirinya berharap fenomena ini menjadi perhatian, tidak hanya oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen melalui aparat terkait, tetapi juga perlu peran aktif elemen masyarakat, tokoh agama, orang tua, para pendidik, dan yang lainnya.
”Setiap penindakan balapan liar harus ada solusinya paling tidak ada digelarnya event balapan di Bireuen agar kami pecinta otomotif mempunyai untuk mengembangkan hobi itulah solusinya,” tandas pria ini.
Sementara Daud (49) menyampaikan rasa prihatinnya terhadap aksi trek trekan para pemuda itu, Ia mengharapkan adanya penertiban dari pihak berwajib agar dapat menindak pelaku balap liar yang sering ugal ugalan dijalan .
“Tentunya sangat mengganggu bagi pengguna jalan yang lain” (Duta).

