KABAR DARI ACEH

Terkait Teungku Munirwan , LKBH Unsyiah , Tim Advokat Serta Paralegal Mendatangi Polda Aceh

Banda Aceh – Aceh Monitor Com (AMC). Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala yang dipimpin Kurniawan S, S.H., LL.M didampingi oleh  TIM ADVOKAT dan TIM PARALEGAL hari Jum’at/26 Juli 2019 pukul 09.55 mendatangi POLDA ACEH.

Tujuan kedatangan Pengurus dan Pelaksana LKBH FH Univ. Syiah Kuala tersebut adalah guna menjumpai Teungku Munirwan (Keuchik Desa Meunasah Rayeuk Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara) yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh POLDA ACEH sejak selasa/23 Juli 2019.

Menurut Kurniawan S, S.H., LL.M selaku Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

“Ada 3 hal Pertama, bermaksud untuk memberikan dukungan moral sekaligus penyemangat kepada tersangka Munirwan , kedua, guna menawarkan jasa bantuan hukum kepada tersangka Munirwan selama menghadapi kasus ini (bilamana belum ada dan belum didampingi oleh kuasa hukumnya), Dan ketiga, adalah guna melakukan audensi dengan DIRRESKRIMSUS POLDA ACEH” sebut Kurniawan.

Ia menambahkan audensi ini dilakukan guna mendapatkan informasi secara utuh dan menyeluruh terkait duduk perkara serta dalil dan alasan yang digunakan oleh pihak pelapor dalam kasus ini.

“Dengan demikian dapat menjadi informasi penyeimbang bagi kami LKBH FH Syiah Kuala selain informasi yang kami peroleh dari berbagai Media Mainstraim baik cetak maupun online dalam tiga hari terakhir ini”, kata Kurniawan.

Dalam kunjungan ke DIRRESKRIMSUS POLDA ACEH tersebut, Kurniawan selaku Ketua LKBH FH Universita Syiah Kuala turut di dampingi  2 orang dari 8 orang Advokat yang tergabung dalam TIM ADVOKAT LKBH FH Syiah Kuala sebagaimana yang telah di tetapkan oleh Dekan Fakultas Hukum Univ. Syiah Kuala yaitu Prof. Dr. Ilyas, S.H., M.Hum. Adapun kedua Advokat LKBH FH Univ. Syiah Kuala tersebut adalah Advokat Senior Bahadur Satri, S.H., MM dan Kasibun Daulay, S.H.

Dalam kunjungannya ke POLDA ACEH tersebut, Pengurus dan Pelaksana LKBH Fakultas Hukum Syiah Kuala diterima langsung oleh DIRRESKRIMSUS POLDA ACEH Kombes. Pol. Saladin di ruang kerjanya.

Pada saat menerima Audensi dari LKBH FH Univ. Syiah Kuala, Saladin didampingi oleh sejumlah pejabat dan staf DIRRESKRIMSUS.

Selanjutnya Kepala DIRRESKRIMSUS POLDA ACEH tersebut mempersilakan kepada LKBH FH Univ. Syiah Kuala untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke POLDA ACEH terkait kasus yang saat ini sedang ditangani oleh DIRRESKRIMSUS POLDA ACEH.

Setelah dipersilahkan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya, Kurniawan selaku Ketua LKBH FH Syiah Kuala menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya sebagaimana disebutkan di atas.

Dalam penjelasan yang diberikan oleh DIRRESKRIMSUS POLDA ACEH Kombes Pol. Saladin jum’at pagi tadi kepada Pengurus dan Pelaksana LKBH FH Syiah Kuala adalah ditetapkannya Munirwan sebagai tersangka dalam kasus ini ,  karena yang bersangkutan telah menyebarkan hasil inovasi berupa rekayasa genetika IF 8 generasi ke-2 dan ke-3 kepada masyarakat dengan tujuan komersialisasi dan hal ini dilarang oleh peraturan perundang-undangan baik UU No. 12 Tahun 1992, PP No. 44 Tahun 1995 serta beberapa Permentan.

Menurut Saladin, Secara hukum, penyebaran bibit/benih unggul yang belum dilepas oleh Kementerian Pertanian dilarang untuk dilakukan komersialisasi kecuali dilakukan untuk sekedar pemenuhan kebutuhan antar sesama penangkar bibit di dalam wilayah desa yang sama”.

“Namun kenyataan yang terjadi adalah saudara Munirwan melakukan penyebaran benih padi unggul tersebut secara komersil dan dipedagangkan secara meluas tidak hanya dia ntara sesama penangkar yang berada dalam desa yang sama bahkan sudah merambah ke berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Utara”, tegas Saladin (Dirreskrimsus POLDA ACEH).

“Bahkan total hasil penjualan yang telah diperoleh tersangka Munirwan selama ini diperkirakan mencapai lebih dari 2 M”, sebut Saladin.

DIRRESKRIMSUS POLDA ACEH tersebut mempertegas bahwasanya Kepolisian Daerah Aceh menetapkan saudara Munirwan sebagai tersangka bukan dalam kapasitasnya sebagai Keuchik sebagaimana yang diberitakan dalam berbagai media mainstraim (baik cetak maupun online) di Aceh selama ini, melainkan dalam kapasitasnya sebagai Pengusaha dan Pemilik  Perusahaan yang selama ini memperdagangkan hasil rekayasa genetika IF 8 sehingga menghasilkan generasi ke-2 dan ke-3 ke berbagai kecamatan yang berada di Kabupaten Aceh Utara”, sebut Saladin.

Masih ditempat yang sama , Kurniawan menyebutkan , kami berharap kepada POLDA ACEH agar proses/tahapan serta penyelesaian masalah hukum yang saat ini sedang dihadapi oleh Teungku Munirwan dapat dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku”, sebut Kurniawan.

Kurniawan melanjutkan kita berharap agar penyelesaian masalah hukum terhadap kasus penyebaran bibit padi unggul IF 8 yang dilakukan untuk tujuan komersil yang berjumlah lebih sekitar 2 Milyar tersebut oleh saudara Munirwan dapat diselesaikan secara arif dan bijaksana”pintanya  (rel)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

To Top
error: Content is protected !!